Wednesday, January 12, 2011

Kemampuan Berbahasa Anak Usia Dini

PENGEMBANGAN KEMAMPUAN BERBAHASA
ANAK USIA DINI

Mata Kuliah : Pengembangan Kemampuan Berbahasa AUD
Dosen Pengampu : Ahmad Wahyudin, M. Hum.


Disusun Oleh :
Fitri Riyanti
08111241034
PAUD VA



PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
PENDIDIKAN GURU PRASEKOLAH DAN SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2010

JAWABAN

Seorang anak dapat berbahasa karena anak sudah mulai berbahasa sebelum di lahirkan. Melalui saluran intrauterine anak telah mengetahui bahasa manusia waktu masih menjadi janin. Kata-kata yang didengar dari ibunya tiap hari secara biologis kata-kata itu ”masuk” ke janin. Kata-kata ibunya ini ”tertanam” pada janin anak. Setelah dilahirkan anak dapat menyerap arti kata baru setelah mendengarkan sekali atau dua kali di dalam percakapan atau suatu kalimat yang berbentuk kalimat pertanyaan, negatif dan perintah.

Proses pemerolehan bahasa menurut teori behaviorisme adalah adanya stimulus dari orang tua atau lingkungan maka anak akan merespon stimulus tersebut. Orang tua membawa pensil dan mengatakan pada anaknya bahwa yang dipegangnya adalah pensil, maka anak akan menangkap dalam otaknya, menyimpan, kemudian saat anak melihat pensil lagi ia tahu bahwa nama benda itu adalah pensil. Saat anak mengucapkan kata yang benar dan orang tua menanggapi dengan baik, maka kata itu akan dipakai terus oleh sang anak, jika anak mengucapkan kata yang salah kemudian orang tua menyalahkan kata yang di ucapkannya, anak tidak akan mengulangi mengucapkan kata yang salah tersebut.

Tahap pemerolehan bahasa menurut Piaget yaitu
a. Asimilasi
Asimilasi adalah memadukan data baru dengan struktur kognitif yang ada.
b. Akomodasi
Akomodasi adalah proses penyesuaian struktur kognitif dengan pengetahuan baru.
c. Disquillibrasi
Disquillibrasi adalah proses penerimaan pengetahuan baru yang tidak sama dengan yang telah diketahui.


d. Equillibrasi
Equillibrasi adalah proses penyesuaian kembali antara asimilasi dan akomodasi.
Pemerolehan bahasa adalah proses-proses yang berlaku di dalam otak seorang anak ketika memperoleh bahasa-bahasa ibunya. Proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh anak secara natural ketika ia mendapatkan bahasa ibunya, sedangkan pembelajaran bahasa adalah kegiatan pembelajaran yang dilakukan pada tataran formal, yaitu belajar di kelas dan diajar oleh seorang guru.

LAD (Language Acquisition Device) adalah seperangkat alat berbahasa yang sudah ada pada anak sejak lahir. Eksistensi bakat bermanfaat untuk menjelaskan rahasia penguasaan bahasa pertama anak dalam waktu singkat karena LAD. Belajar bahasa adalah pengisian detail kaidah atau struktur aturan-aturan bahasa ke dalam LAD yang sudah tersedia secara alamiah pada setiap siri manusia. Mc Nail mendeskripsikan LAD terdiri dari :
Kemampuan untuk membedakan bunyi bahasa dengan bunyi-bunyi yang lain.
Kemampuan mengorgaisasikan peristiwa bahasa ke dalam variasi yang beragam.
Pengetahuan adanya sistem bahasa tertentu.
Kemampuan untuk mengevaluasi sistem perkembangan bahasa yang membentuk sistem.

Hipotesis umur kritis adalah hipotesis yang menghubungkan pertumbuhan biologis manusia dengan taraf-taraf penguasaan bahasa. Hipotesis umur kritis mengatakan bahwa :
a. Penguasaan bahasa itu timbul sejajar dengan pertumbuhan biologis.
b. Setelah masa puber, penguasaan bahasa secara natural sudah tidak bisa lagi.

Nature adalah bekal atau kemampuan bawaan untuk memperoleh bahasa, nurture adalah pemerolehan bahasa yang dipengaruhi oleh lingkungan seperti orang tua dan saudaranya. Sifat pemerolehan bahasa nature dan nurture sama pentingnya karena tanpa satu sama lain, pemerolehan bahasa tidak dapat berjalan dengan baik bahkan dapat memenuhi kegagalan.

Basic level kategory adalah kata yang hierarkinya tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah, contohnya seorang anak tidak akan mengambil kata makhluk hidup atau perkutut bangkok, yang dipakai adalah kata dasar, yaitu burung. Inputnya adalah dari bahasa sang ibu, tetapi bahasa sang ibu juga mengikuti prinsip ini.

Kronologi pemerolehan bahasa dalam bidang fonologi adalah
Pada waktu dilahirkan anak hanya memiliki dua puluh persen (20%) dari otak dewasanya. Proporsi otak yang ditakdirkan kecil ini mungkin memang di rancang agar pertumbuhan otaknya proporsional pula dengan pertumbuhan badannya.
a. Usia 6 Minggu
1) Anak mulai mengeluarkan bunyi-bunyi yang mirip dengan bunyi konsonan atau vokal.
2) Bunyi – bunyi yang di produksi belum dapat di pastikan bentuknya karena memang belum terdengar dengan jelas.
3) Proses produksi bunyi ini disebut cooing (dekutan). Anak mendekutkan bermacam–macam bunyi yang belum jelas identitasnya.
b. Usia 6 Bulan
1) Anak mulai mancampur konsonan dengan vokal sehingga membentuk babling (celotehan).
2) Celotehan dimulai dengan konsonan dan diikuti vokal. Konsonan yang keluar pertama adalah konsonan bilabial hambat, seperti /p/ dan bilabial nasal, seperti /m/ diikuti vokal /a/.
3) Strukturnya adalah CV yang kemudian diulang-ulang. Misalnya, papa, mama, baba.
4) Kadang orang tua mengaitkan kata papa dengan ayah dan mama dengan ibu meskipun apa yang ada dalam benak si anak kadang tidak diketahui. Celotehan itu hanya sekedar latihan artikulatori saja.
5) Konsonan vokal secara bertahap berubah sehingga munculah kata mami, dita, tita, dan sebagainya.
c. 1 Tahun
1) Pada anak Barat, produksi kata sudah mulai muncul ketika anak berusia 1 tahun.
2) Pada anak Indonesia, produksi kata muncul ketika anak berusia 1;6 tahun.
3) Kata yang muncul biasanya adalah suku kata terakhir, misalnya bu untuk menyebutkan ibu.

Ketika terjadi pemerolehan bahasa pada anak jumlah komprehensi lebih banyak daripada produksi karena kemampuan anak untuk mememahami apa yang dikatakan orang jauh lebih cepat dan jauh lebih baik daripada produksinya. Anak dan orang dewasa mempunyai dua kemampuan yang berbeda dalam berbahasa. Jumlah kosakata yang orang dewasa pakai secara aktif lebih sedikit dari kosakata yang orang dewasa mengerti. Anak dapat memahami perintah untuk mengambil salah satu mainannya walaupun ia belum bisa mengucapkan mainan tersebut.

Anak yang berlatarbelakang bahasa Inggris mampu lebih banyak dalam memproduksi kata dibandingkan anak Indonesia karena anak Indonesia harus menganalisis secara mental terlebih dahulu dari dua, tiga, atau empat suku kata yang mana yang harus diambil. Dalam bahasa Inggris kata banyak yang pengucapannya sederhana, cukup sekali mengucapkan misalnya kata play, dalam bahasa Indonesia menjadi bermain, terdiri dari tiga suku kata. Dalam bahasa Inggris huruf ”r” pengucapannya tidak jelas /ar/ sedangkan kalau di Indonesia huruf ”r” dibaca jelas /er/.

Konsep sini dan kini dalam pemerolehan bahasa adalah kata-kata yang diperoleh anak pada awal ujarannya ditentukan oleh lingkungannya. Anak pada kalangan yang terdidik mempunyai banyak mainan, ada fasilitas alat-alat elektronik, mereka sudah menguasai kosa kata seperti : televisi, telepon, telepon genggam, komputer, dan lain sebagainya. Dalam bentuk verba juga mengenal kata maem, pipis, ngetik, jalan-jalan, belanja, dan lain sebagainya. Anak yang tinggal di pedesaan terpencil kemungkinan kecil sekali untuk menguasai sejak awal kosa kata tersebut. Prinsip sini pada anak desa akan membuat dia menguasai kosa kata seperti : daun, rumput, kerbau, dan sebagainya.

Dalam penguasaan makna anak cenderung menggelembungkan makna karena dari masukan yang ada, anak harus menganalisis segala macam fiturnya sehingga makna yang diperoleh itu akhirnya sama dengan makna yang dipakai oleh orang dewasa. Jika anak diperkenalkan dengan konsep baru, maka akan cenderung untuk mengambil salah satu fitur dominan dari konsep itu. Konsep ini kemudian diterapkan pada konsep lain yang memiliki fitur tersebut. Contohnya : bulan dengan fitur bulat, kemudian diterapkannya pada kue ulang tahun, jam dinding, piring, huruf o. Tiap kali terapannya di tolak, dia merevisi ”definisi” tentang bulan sampai akhirnya anak memperoleh makna yang sebenarnya. Selain bentuk, ukuran juga bisa menjadi fitur yang diambil anak.

Anak Indonesia lebih lama menguasai pronomina dibandingkan dengan anak yang berlatarbelakang bahasa Inggris karena dalam memperoleh bahasanya anak juga harus menguasai tata krama bahasa. Ketika seseorang akan berbicara harus mempertimbangkan siapa yang diajak bicara. Dalam bahasa Indonesia promina orang kedua mempunyai banyak bentuk : kamu, engkau, saudara, anda, bapak, ibu. Pemakaian pronomina ini diatur oleh aturan sosial yang tidak sederhana. Jika dibandingkan dengan pronomina dalam bahasa Inggris, anak Inggris sudah menguasai pronomina you pada usia 2;3-1;6, anak Indonesia contohnya Echa sampai umur 5;0 kadang masih keliru dalam memakai kata kamu.

Ada aliran yang menentang bahwa seorang anak dapat berbahasa bukan karena habbit hal ini disebabkan oleh adanya aliran yang berpendapat bahwa kemampuan bahasa anak berasal dan diperoleh karena akibat kematangan kognitif anak, dalam aliran nativisme bahkan berpendapat bahwa bahasa terlalu kompleks dan mustahil dapat di pelajari oleh manusia dalam waktu yang relatif singkat melalui proses peniruan karena bahasa ditentukan oleh bakat.

No comments:

Post a Comment